<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Spasi</title>
	<atom:link href="http://spasi.dagdigdug.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://spasi.dagdigdug.com</link>
	<description>spasi dagdigdug</description>
	<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 03:40:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Incar Lokal Atau Go Global?</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/incar-lokal-atau-go-global.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/incar-lokal-atau-go-global.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 03:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rama</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[epalembang]]></category>

		<category><![CDATA[going]]></category>

		<category><![CDATA[lokal]]></category>

		<category><![CDATA[patch]]></category>

		<category><![CDATA[yogyes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini merupakan artikel lanjutan dari diskusi di artikel saya mengenai layanan web karya anak bangsa. Dalam kolom komentar ada Pak Nukman Luthfie yang berpendapat bahwa kekalahan layanan lokal disebabkan oleh mindset yang cenderung ke arah lokal saja, dan bukan ke arah global. Berikut komentar beliau :
kalau dibandingkannya dengan luar, masalah uatama adalah skalabilitas. layanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini merupakan artikel lanjutan dari diskusi di artikel saya mengenai <a href="http://spasi.dagdigdug.com/mengapa-layanan-web-lokal-kurang-populer.html">layanan web karya anak bangsa</a>. Dalam kolom komentar ada Pak <a href="http://www.sudutpandang.com/">Nukman Luthfie</a> yang berpendapat bahwa kekalahan layanan lokal disebabkan oleh mindset yang cenderung ke arah lokal saja, dan bukan ke arah global. Berikut <a href="http://spasi.dagdigdug.com/mengapa-layanan-web-lokal-kurang-populer.html#comment-40">komentar</a> beliau :<span id="more-136"></span></p>
<blockquote><p>kalau dibandingkannya dengan luar, masalah uatama adalah skalabilitas. layanan web internasional dirancang untuk dipakai seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebaliknya, layanan lokal dirancang untuk lokalsaja. Itu sebabnya, mindset lokal selalu tidak bisa mengalahkan mindset internasional di dunia maya. Jadi kalau layanan lokal kalah dengan internasional di dunia maya, tidak perlu kaget.</p></blockquote>
<p>Komentar yang sangat menarik dan menimbulkan beberapa pertanyaan baru untuk saya. Disini saya ingin membahas mengenai beberapa contoh kasus dari layanan-layanan lokal dengan mindset global. Salah satu contoh kasus dari web startup yang memiliki mindset lokal adalah <a href="http://patch.com">Patch</a> dan <a href="http://going.com">Going</a>, yang belum lama ini <a href="http://dailysocial.net/post/aol-akuisisi-patch-dan-going/">diakuisisi</a> oleh AOL. Kedua startup tersebut memberikan layanan informasi yang bersifat lokal, sangat-sangat lokal.</p>
<blockquote><p><a href="http://www.patch.com/">Patch</a>, yang berbasis di New York menyediakan informasi komunitas yang niche di New York dan juga beberapa daerah di sekitar New Jersey. Salah satu investor dari Patch adalah Polar Capital Group yang dimiliki oleh Tim Armstrong, CEO AOL. <a href="http://going.com/">Going</a>, perusahaan asal Boston juga memberikan layanan lokal berupa informasi mengenai konser dan event-event lainnya mencakup 30 kota di seluruh AS.</p></blockquote>
<p>Kedua website ini memutuskan untuk memberikan layanan lokal yang fokus ke pengguna niche saja yaitu yang berdomisili di sekitar New York dan Boston. Namun dengan cakupan yang sempit seperti itu bisnis yang mereka jalankan justru lebih scalable dan mendatangkan keuntungan dari advertiser lokal (targeted).</p>
<p>Kalau berbicara soal mindset memang sebuah wawasan global sangatlah diperlukan, mulai dari teknologi yang digunakan sampai ke rancangan tampilan. Dari sisi ini memang banyak layanan buatan anak bangsa yang masih kalah, tampilan yang kurang bagus, tidak user-friendly, teknologi yang digunakan pun masih teknologi lama dan cenderung malas untuk mengembangkan teknologi baru. DI satu titik, hal ini menjadi penentu apakah layanan anda bisa berhasil atau tidak.</p>
<p>Layanan-layanan lokal seperti <a href="http://www.yogyes.com/">Yogyes.com</a> dan juga yang baru-baru ini <a href="http://dailysocial.net/post/epalembang/">diluncurkan</a> yaitu <a href="http://epalembang.com/">ePalembang.com</a>, memiliki kekuatan tersendiri bagi penikmat lokal. Dengan informasi yang memiliki ruang lingkup kecil (per daerah)  justru lebih menarik bagi advertiser, dan pastinya lebih mudah untuk pengguna-pengguna baru. Saya pribadi melihat Yogyes dan ePalembang memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk bertahan (dan profitable) dibandingkan layanan-layanan serupa yang dibuat dengan range global. Keduanya merupakan layanan lokal dengan mindset global. Ruang lingkup yang se-kecil ini tentu tidak menjadi alasan untuk mengembangkan layanan lebih jauh, apalagi dengan hanya menyerah kepada teknologi yang masih sulit dikembangkan. Setidaknya harus begitu, bukan pekerjaan gampang.</p>
<p><strong>Pertanyaan yang lalu muncul : jika anda telah memiliki sebuah layanan lokal dengan kekuatan dan diferensiasi yang cukup, kenapa tidak langsung mengincar pasar global saja? Kenapa harus membatasi hanya untuk pengguna lokal?</strong></p>
<p>Ada beberapa faktor yang buat saya layak dijadikan bahan pertimbangan, misalnya skalabilitas dari sisi marketing, pengembangan bisnis, dan juga secara teknis. Mampukah anda memasarkan produk anda jika konsumen yang anda incar ada konsumen global? Mampukah mempromosikan produk anda secara global dari sisi finansial? Dan apakah server anda cukup kuat untuk melayani pengguna dari seluruh penjuru dunia?</p>
<p>Jujur saja, siapa sih yang tidak mau layanannya digunakan semua orang dari segala penjuru dunia? Pasti mau! Hanya saja kendala-kendala yang saya sebutkan diatas seringkali hanya bisa diatasi dengan membatasi range layanan. Satu hal yang harus diingat, <strong>membatasi range layanan tidak harus berarti mengurangi revenue</strong>! Dengan strategi yang tepat layanan lokal anda bisa jauh lebih menguntungkan daripada layanan global.</p>
<p>Jadi bagaimana? Layanan lokal dengan mindset global tentu masih bisa menguntungkan bukan? Masih nekat ingin go global?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/incar-lokal-atau-go-global.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Konten Premium : Model Bisnis Alternatif Untuk Blog?</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/konten-premium-model-bisnis-alternatif-untuk-blog.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/konten-premium-model-bisnis-alternatif-untuk-blog.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 13:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rama</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[cari uang]]></category>

		<category><![CDATA[konten premium]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Memang ada banyak cara untuk meraup keuntungan dari bisnis online. Namun ketika kita menjual konten berupa berita atau artikel, belum banyak model bisnis yang berlaku selain hanya mengandalkan banner iklan saja. Inilah yang menjadi semacam paradigma yang dianut sebagian besar blogger, bahkan blogger professional sekalipun. Namun sebenarnya ada cara lain lho untuk mendatangkan udang dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memang ada banyak cara untuk meraup keuntungan dari bisnis online. Namun ketika kita menjual konten berupa berita atau artikel, belum banyak model bisnis yang berlaku selain hanya mengandalkan banner iklan saja. Inilah yang menjadi semacam paradigma yang dianut sebagian besar blogger, bahkan blogger professional sekalipun. Namun sebenarnya ada cara lain <em>lho</em> untuk mendatangkan udang dari blog anda. Jawabannya : <strong>KONTEN PREMIUM</strong>!</p>
<p><span id="more-133"></span>Yap, konten premium adalah konten berupa berita, artikel, karya ilmiah, foto, video atau apapun yang anda berikan kepada pelanggan yang memang benar-benar membutuhkan dan tidak dapat ditemukan di tempat lain. Salah satu kelebihan dari bisnis model seperti ini adalah anda tidak perlu menggantungkan pemasukan dari space iklan saja, meskipun dua metode ini bisa berjalan secara bersamaan untuk memaksimalkan profit. Namun ingat, jangan sampai iklan-iklan tersebut justru mengganggu pengalaman pembaca dalam meng-explore konten premium anda. Dan pastikan iklan-iklan tersebut juga relevan dengan konten, jangan sampai konten premium anda dikotori dengan <a href="http://dailysocial.net/post/ppc-lokal-evolusi-atau-mati/">iklan-iklan yang <em>nggak nyambung</em></a>.</p>
<p>Beberapa blog di luar negeri sudah <a href="http://dailysocial.net/post/gigaom-rilis-konten-premium/">mencoba dan sukses </a>menerapkan model bisnis seperti ini, bahkan beberapa media cetak lokal juga telah menerapkan metode langganan berbayar untuk konten dalam versi digital. Sebutlah Wall Street Journal, Techcrunch, ReadWriteWeb dan juga GigaOm yang baru memulai versi premium untuk blognya.</p>
<p>Pada dasarnya ada 2 persyaratan untuk menjual konten premium anda :</p>
<ol>
<li>Pastikan konten anda unik dan tidak dapat ditemukan di tempat lain. Tidak masalah jika anda hanya membahas hal-hal yang scope pembacanya kecil asalkan anda yakin bahwa pembaca-pembaca tersebut akan dan mampu membayar konten yang anda sajikan. Jika anda hanya memberikan konten premium berupa berita teknologi, atau berita regional (misalnya) maka anda akan kesulitan bersaing dengan konten gratis yang lain yang bisa jadi lebih baik dari anda. Namun jika anda memilih untuk memberikan konten yang spesifik mengenai (misalnya) seputar olahraga Golf, maka kemungkinan pembaca untuk membayar konten anda tentu lebih besar.</li>
<li>Pastikan konten yang anda berikan diolah dengan baik dan berkualitas. Dengan sistem berlangganan yang berbayar, pembaca anda harus dimanjakan dengan konten yang berkualitas tinggi, rinci, lengkap dan relevan. Konten harus diolah dengan standard tinggi dan jangan setengah-setengah. Kalau perlu sewa seorang yang memang sangat ahli di bidangnya untuk menulis untuk memastikan konten menjadi relevan dan berintegritas tinggi. Sekali pembaca kecewa dengan konten anda, bisa dipastikan dia tidak akan melanjutkan berlangganan lagi.</li>
</ol>
<p>Sulitkah membuat konten premium? Tidak juga, namun tidak juga bisa dibilang mudah untuk dibuat. Tergantung anda saja&#8230; <img src='http://spasi.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/konten-premium-model-bisnis-alternatif-untuk-blog.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>WordPress + Prologue: Microblog Kita Sendiri</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/wordpress-prologue-microblog-kita-sendiri.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/wordpress-prologue-microblog-kita-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 14:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tip & trik]]></category>

		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[microblog]]></category>

		<category><![CDATA[prologue]]></category>

		<category><![CDATA[theme]]></category>

		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin Kuncoro sudah sempat cerita tentang BuddyPress, sarana membangun social network dengan memanfaatkan WordPress MU. WordPress ternyata bisa sangat fleksibel dalam desain theme-nya. Waktu WordCamp Jakarta 2009 kemarin, Matt Mullenweg, kreator WordPress juga bercerita tentang theme kreasi dari perusahaannya, Automattic yang ia sebut dengan Prologue.
Konsep theme Prologue mirip dengan microblog. Posting artikel tidak dari dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin Kuncoro sudah sempat cerita tentang <a href="http://spasi.dagdigdug.com/buddypress.html" target="_blank">BuddyPress</a>, sarana membangun <em>social network </em><span>dengan memanfaatkan WordPress MU. WordPress ternyata bisa sangat fleksibel dalam desain </span><em>theme</em><span>-nya. Waktu <a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/01/19/dua-hari-di-wordcamp-indonesia/" target="_blank">WordCamp Jakarta 2009</a> kemarin, Matt Mullenweg, kreator WordPress juga bercerita tentang </span><em>theme </em><span>kreasi dari perusahaannya, Automattic yang ia sebut dengan Prologue.</span></p>
<p><span>Konsep </span><em>theme </em><span>Prologue mirip dengan </span><em>microblog</em><span>. </span><em>Posting </em><span>artikel tidak dari dalam halaman admin, melainkan melalui halaman utama. Menariknya lagi, pertengahan Maret 2009 kemarin, rilis terbaru </span><em>theme </em><span>Prologue yang disebut dengan P2 baru saja diluncurkan. Silakan coba unduh </span><em>theme</em><span>-nya di <a href="http://wordpress.org/extend/themes/p2" target="_blank">tautan ini</a>.  Kini, orang lain bisa langsung mengomentari </span><em>posting </em><span>kita langsung di bawahnya. Saat kita </span><em>posting </em><span>kita bisa pula menentukan </span><em>tag </em><span>(mirip dengan kategori) untuk tipe </span><em>posting </em><span>kita. Ada pula </span><em>shortcut </em><span>tombol kalau kita mau melakukan </span><em>reply</em><span>, menulis </span><em>post </em><span>langsung. Nggak kebayang? Silakan coba saja demonya di <a href="http://p2demo.wordpress.com/" target="_blank">tautan ini</a>. </span></p>
<p><span>Lalu apa yang bisa dimanfaatkan dari blog dengan </span><em>theme </em><span>Prologue?</span></p>
<ul>
<li><span>Kita 	bisa membuat diskusi dengan anggota terbatas tentang satu tema 	tertentu. Isi </span><em>posting </em><span>tidak 	perlu panjang-panjang, namun idenya bisa ditangkap. Lihat salah satu 	contohnya di <a href="http://flashlit.wordpress.com/" target="_blank">tautan ini</a>. </span></li>
<li><span>WordPress 	merupakan </span><em>content management system </em><span>yang 	cukup fleksibel. Kita bisa memanfaatkannya menjadi platform </span><em>microblog </em><span>dengan 	keanggotaan terbuka. Apalagi WordPress memiliki </span><em>plugin </em><span><a href="http://spasi.dagdigdug.com/pemanfaatan-facebook-connect-untuk-blog.html" target="_blank">Facebook Connect</a>, yang bisa diintegrasikan dalam </span><em>theme </em><span>ini. 	Jadi, kita bisa membuat sebuah </span><em>microblog </em><span>dengan 	memanfaatkan Facebook Connect untuk registrasi anggotanya.</span></li>
<li><span>Mungkin 	bisa juga diintegrasikan dalam WordPress MU. Bayangkan, setiap 	anggota bisa membangun </span><em>microblog</em><span>-nya 	sendiri untuk kelompoknya sendiri. Sesuatu yang mirip dilakukan oleh 	<a href="http://www.buzzable.com" target="_blank">Buzzable</a> dengan Twitter, namun ini bisa dilakukan dengan menggunakan platform 	WordPress.</span></li>
</ul>
<p><span>WordPress dan </span><em>theme </em><span>Prologue (dan </span><em>theme </em><span>P2) merupakan salah satu pengembangan menarik dari platform WordPress. Silakan coba bereksperimentasi.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/wordpress-prologue-microblog-kita-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BuddyPress: Social Network Kita Sendiri</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/buddypress.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/buddypress.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 16:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jejaring sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Tip & trik]]></category>

		<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<category><![CDATA[buddypress]]></category>

		<category><![CDATA[group]]></category>

		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<category><![CDATA[wpmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu oleh-oleh dari WordCamp Jakarta 2009 beberapa bulan lalu adalah informasi langsung dari Matt Mullenweg tentang CMS berbasis WordPress. Aku sempat menceritakan ulang soal ini ke rekan dari Vivanews, dan akibatnya ada beberapa pertanyaan via mail dan Facebook tentang soal CMS berbasis WordPress ini.
Singkatnya, WordPress sendiri sebuah CMS :). Dia berfungsi asali sebagai tools [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu oleh-oleh dari <a href="http://kun.co.ro/2009/01/18/wordcamp-jakarta-2009/">WordCamp Jakarta 2009</a> beberapa bulan lalu adalah informasi langsung dari <a href="http://ma.tt">Matt Mullenweg</a> tentang CMS berbasis WordPress. <a href="http://en.vivanews.com/news/read/22987-indonesia_third_top_wordpress_user">Aku sempat menceritakan ulang soal ini ke rekan dari Vivanews</a>, dan akibatnya ada beberapa pertanyaan via mail dan Facebook tentang soal CMS berbasis WordPress ini.</p>
<p>Singkatnya, WordPress sendiri sebuah CMS :). Dia berfungsi asali sebagai tools untuk blogging. Tetapi dengan sedikit hack, dia bisa menjadi aplikasi web berupa microblogging, galeri foto, hingga social network. Untuk yang terakhir ini, Matt dkk telah membuat toolsnya: seperangkat plugin dan themes yang dikemas dengan nama BuddyPress.</p>
<p><strong>BuddyPress</strong> adalah suite pengaya WordPress Multi User (<strong>WPMU</strong>). Sitenya ada di <a href="http://buddypress.org">BuddyPress.org</a>, berisi dokumentasi lengkap tentang BuddyPress dan downloadnya. Untuk menjalankannya, tentu kita harus memiliki instalasi WPMU terlebih dahulu. Tapi ini pun soal mudah. Tinggal kunjungi sitenya di <a href="http://mu.wordpress.org">MU.WordPress.org</a>, lakukan download, lalu install pada server atau webspace kita (dengan account webhosting pun bisa). Tips instalasi: Unggah seluruh kode &#8212; baik WPMU dan sekaligus BuddyPress &#8212; ke tempat yang benar sesuai dokumentasi (tidak sulit), setel database, baru lakukan instalasi WPMU sekaligus dengan BuddyPressnya. Cara ini lebih baik daripada memasang BuddyPress setelah keseluruhan instalasi WPMU selesai. (Tetapi memasang BuddyPress belakangan pun tak apa-apa).</p>
<p>BuddyPress sendiri masih dalam tahap RC1, belum resmi diluncurkan. Aku sudah beberapa kali melakukan tes, dan sejauh ini fungsi-fungsi utama berjalan dengan baik. Lihat salah satu contohnya adalah portal uji di <a href="http://bandung.cc">Bandung Cybercity</a>.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-126 aligncenter" src="http://spasi.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/04/bp-sample.jpg" alt="bp-sample" width="300" height="256" /></p>
<p>Portal uji ini menunjukkan bagaimana BuddyPress mengubah portal blog biasa menjadi <strong>social network</strong>. Di dalamnya ada menagement user, feature user, avatar, termasuk hal-hal seperti <strong>add friend</strong>, dan saling berkirim pesan (<strong>inbox</strong> dan <strong>wire</strong>). BuddyPress juga memungkinkan user membentuk dan mengelola group.</p>
<p>Yang juga menarik adalah integrasi antara WPMU/BuddyPress dengan <a href="http://bbpress.org">BBPress</a>. Kita tahu, BBPress adalah aplikasi pengelola forum diskusi. Integrasi BBPress dengan BuddyPress memungkinkan terbentuknya social network yang dilengkapi diskusi dalam bentuk <strong>forum</strong>.</p>
<p>Peluang-peluang dari BuddyPress:</p>
<ol>
<li> Menciptakan portal untuk komunitas kita, secara cepat dan mudah.</li>
<li>Memperkaya WPMU yang telah kita pasang. Selain Dagdigdug, Plasa.com, dan Blogdetik; banyak dari kita yang juga telah menginstall WPMU, tapi belum sempat memperkaya seperti portal besar itu. Dengan BuddyPress, kita bisa menambahkan fungsi-fungsi menarik pada WPMU kita.</li>
<li>Menciptakan social network di di dalam intranet, untuk kebutuhan internal organisasi. Bikin tukang milis pemalas itu jadi blogger kantor; atau sebaliknya, tarik tukang blog dan Facebook itu jadi aktif berkomunikasi produktif di kantor.</li>
<li>Menciptakan themes dan plugin bagi BuddyPress. Kalau sudah jadi, hubungi saya :).</li>
<li>Buat yang doyan jual buku dari benda-benda lucu di Internet, ini peluang menarik: kunjungi BuddyPress, baca, download, install, dokumentasikan, lalu berlomba menerbitkan, dan tunggu royalty :D.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/buddypress.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Eksis dengan Video Blogging</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/eksis-dengan-video-blogging.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/eksis-dengan-video-blogging.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 15:59:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>

		<category><![CDATA[Penyiaran]]></category>

		<category><![CDATA[digital narcissism]]></category>

		<category><![CDATA[narsisme digital]]></category>

		<category><![CDATA[video blogging]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Tahu dong video blogging? Blog yang isinya berbasis rekaman video. Setidaknya ada 4 blog Indonesia yang berbagi cerita melalui rekaman video. Coba cek saja: Orangebox.tv, Webicara, Not So Geeky, dan Macindos.tv. Keempat video blog ini punya benang merah yang sama, bercerita tentang informasi teknologi. Silakan simak saja isinya masing-masing. Ada yang dibawakan secara serius seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-122" src="http://spasi.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/04/sony-hdr-cx11e-handycam-thumb.jpg" alt="sony-hdr-cx11e-handycam-thumb" width="320" height="240" />Tahu dong video blogging? Blog yang isinya berbasis rekaman video. Setidaknya ada 4 blog Indonesia yang berbagi cerita melalui rekaman video. Coba cek saja: <a href="http://www.orangebox.tv" target="_blank">Orangebox.tv</a>, <a href="http://www.webicara.com" target="_blank">Webicara</a>, <a href="http://www.notsogeeky.net" target="_blank">Not So Geeky</a>, dan <a href="http://www.macindos.tv" target="_blank">Macindos.tv</a>. Keempat video blog ini punya benang merah yang sama, bercerita tentang informasi teknologi. Silakan simak saja isinya masing-masing. Ada yang dibawakan secara serius seperti Webicara, namun ada yang sangat santai seperti Not So Geekly.</p>
<p>Sedikit nyambung dengan tulisan saya mengenai <strong><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/04/12/menunjukkan-kompetensi-diri-di-ranah-daring/" target="_blank">narsisme </a></strong><strong><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/04/12/menunjukkan-kompetensi-diri-di-ranah-daring/" target="_blank">digital</a></strong>, apa yang dilakukan para video blogger ini juga serupa. Mereka menunjukkan eksistensinya melalui kompetensi yang mereka miliki. Kebetulan mereka doyan dunia IT dan doyan bermain video, digabungkanlah hobi itu menjadi sesuatu yang unik.</p>
<p>Lalu, apakah video blog itu harus serius? Nggak harus. Nah, saya justru sangat berharap akan muncul blogger-blogger perempuan yang mau ikut unjuk diri melalui <em>posting </em><span>berupa video. Topik juga jangan lagi seputar IT. Cari topik yang </span><em>fun</em><span>. Kalau doyan </span><em>shopping </em><span>ya tentenglah kamera selalu pada saat ke mal. Cerita-cerita bagaimana berburu barang unik dan murah.</span></p>
<p><span>Kalau doyannya membaca buku, bikinlah rekaman video pendek tentang bagaimana perasaan kamu setelah membaca buku itu. Ceritakan dengan ekspresif seakan-seakan kamu sedang curhat dengan teman kamu. Banyak kok macam-macam caranya. Lihat-lihat deh karya video blogger luar seperti <a href="http://www.heynadine.com/" target="_blank">Hey Nadine</a>,  <a href="http://tastyblogsnack.com/" target="_blank">iJustine</a>, <a href="http://www.valsartdiary.com" target="_blank">Val&#8217;s Art Diary</a>.</span></p>
<p><span>Nggak usah bingung dengan peralatan. Manfaatkan saja telepon genggam atau </span><em>webcam</em><span>, hanya pakailah di ruang terbuka yang banyak cahaya. Kecuali kamu punya </span><em>handycam </em><span>berkualitas sedang, sebaiknya jangan pakai ruangan tertutup dan malam hari. Manfaatkan cahaya matahari sebagai sumber pencahayaan. Untuk mengeditnya, banyak kok perangkat lunak gratis bertebaran di internet. Salah satunya bisa pakai <a href="http://www.solveigmm.com/?Products&amp;id=AVITrimmer" target="_blank">AVI Trimmer</a>. </span></p>
<p><span>Nggak usah bingung juga dengan </span><em>hosting</em><span>. Unggah saja videonya ke <a href="http://www.youtube.com" target="_blank">YouTube</a>, <a href="http://www.vimeo.com" target="_blank">Vimeo</a>, atau kalau mau yang lokal, bisa ke <a href="http://www.beoscope.com/" target="_blank">Beoscope</a> atau <a href="http://www.videoku.tv" target="_blank">Videoku.tv</a>. Lalu </span><em>embed </em><span>video itu ke blog kamu. Yang asyik kalau pakai YouTube, kamu bisa menggunakan </span><em>annotations</em><span>. Kamu bisa memanfaatkan </span><em>annotations </em><span>ini untuk membuat video menjadi lebih interaktif. Contohnya seperti yang dilakukan Hey Nadine dalam video </span><em><a href="http://www.youtube.com/watch?v=cdmTDM_tU54" target="_blank">Easter Egg</a></em><span>-nya.</span></p>
<p><span>Seperti awalnya ngeblog, bisa jadi </span><em>posting </em><span>video blog pada awalnya akan berkesan garing. Santai saja, dalam kesempatan-kesempatan </span><em>posting </em><span>berikutnya, pasti akan berkembang menjadi lebih baik. Dengan semakin sering </span><em>posting</em><span>, kamu pasti juga akan terbiasa kok.</span></p>
<p>Ayo, ayo, siapa yang mau mulai lebih dulu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/eksis-dengan-video-blogging.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mau revenue dari iklan?</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/mau-revenue-dari-iklan.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/mau-revenue-dari-iklan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 02:36:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>OrangeMood</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[Jejaring sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Media sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Tip & trik]]></category>

		<category><![CDATA[ads]]></category>

		<category><![CDATA[bisnis model]]></category>

		<category><![CDATA[business model]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>

		<category><![CDATA[revenue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Di bulan January kemarin, saya memprediksi beberapa hal mengenai lokal trend internet di 2009, diantaranya adalah :

Investasi anggaran untuk online marketing meningkat 10-15%.
Akan hadir dan akan hilang beberapa pemain di bisnis online.

Pitra mengatakan bahwa blog sudah mulai dilirik pasar dan sharing beberapa tips berguna supaya blog kita bisa dilirik pemasang iklan, lalu ada juga Rama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di bulan January kemarin, saya memprediksi beberapa hal mengenai <a href="http://orangemood.wordpress.com/2009/01/14/2009-indonesia-online-trend-predictions/" target="_blank">lokal trend internet di 2009</a>, diantaranya adalah :</p>
<ul>
<li>Investasi anggaran untuk online marketing meningkat 10-15%.</li>
<li>Akan hadir dan akan hilang beberapa pemain di bisnis online.</li>
</ul>
<p>Pitra mengatakan bahwa <a href="http://spasi.dagdigdug.com/blog-sudah-dilirik-pemasar-merk-loh.html" target="_blank">blog sudah mulai dilirik pasar</a> dan <em>sharing</em> beberapa <a href="http://spasi.dagdigdug.com/agar-blog-dilirik-pemasar.html" target="_blank">tips berguna supaya blog kita bisa dilirik pemasang iklan</a>, lalu ada juga Rama mengatakan analisisnya tentang <a href="http://spasi.dagdigdug.com/mengapa-layanan-web-lokal-kurang-populer.html" target="_blank">mengapa start up lokal kurang populer</a>, lalu apa hubungannya semua itu? percaya atau tidak, mayoritas pemain lokal yang akan terjun ke dalam bisnis online memasukan list <em>revenue from advertising</em> ke dalam bisnis modelnya, lebih tepatnya (<strong>dan sayangnya</strong>) berada di <em>top of the list</em>.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-109" src="http://spasi.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/04/you.jpg" alt="you" width="360" height="240" /></p>
<p>Sebelumnya <em>please bear in mind</em> saya tidak ingin menurunkan <em>spirit of net-preneurship</em>, percayalah saya mendukung munculnya <em>net-preneurship</em> dan berharap layanan lokal bisa berhasil apalagi sampai ke <em>regional/global market. </em>Saya akan sharing bagaimana agar anda memahami apa yang dicari oleh para advertiser.</p>
<p>Beberapa dari anda tahu pekerjaan saya sebagai sales iklan di media online (saya lebih suka disebut sebagai <em>online marketing consultant</em>), setiap harinya saya berhubungan dengan para <em>advertiser</em>/pemasang iklan lokal, regional maupun internasional, 2.5 tahun saya disana dan menghandle beberapa <em>top</em> website skala internasional, harus saya akui menjual iklan online bukanlah pekerjaan yang mudah.</p>
<p>Ada beberapa kriteria yang memang harus dipenuhi supaya website (atau blog?) anda bisa benar-benar dilirik oleh pemasar iklan, kriteria tersebut adalah :</p>
<ol>
<li><strong>Statistik yang dengan angka-angka yang sexy.</strong><br />
Ini hal yang mutlak, tidak ada yang akan memasang di website/blog anda jika tidak ada yang mengunjungi website/blog anda, selain anda sendiri dan mungkin teman-teman anda. Jadi bangunlah trafik website anda dengan baik, <em>pageviews, unique user, active user, reach, dsb </em>itu adalah <em>homework</em> anda<em>.</em> <em>Never lie about this</em>, advertiser bisa dengan mudah men-track website anda.<br />
 </li>
<li><em><strong>Demographic</strong></em><strong> yang jelas untuk pengunjung website anda.</strong><br />
<em>Demographic</em> disini maksudnya siapa pengunjung website anda, apa pekerjaan mereka, berapa umur mereka, apa <em>gender</em> mereka akan lebih bagus lagi jika anda bisa mempunyai data lebih details tentang apa <em>social class</em> mereka, apa hobby mereka, apa yang mereka lakukan ketika week end, dsb. Hal ini akan diperlukan oleh para advertiser untuk menentukan komunikasi yang akan digunakan ketika website anda sudah cocok dengan target market mereka.<br />
 </li>
<li><em><strong>Awareness</strong></em><strong> yang membuat website anda ada di </strong><em><strong>top of mind Indonesian netizens.</strong><br />
<span style="font-style: normal;">Mayoritas orang tahu Detik, Kompas, Kapanlagi, Friendster, Facebook, 21cineplex, bhineka, dsb. Saya yakin anda tahu maksudnya, </span>awareness<span style="font-style: normal;"> yang bagus adalah ketika semua orang tahu tentang website anda meskipun mereka bukan salah satu penggunannya.<br />
</span><br />
</em></li>
<li><em><strong>Positioning </strong></em><strong>untuk </strong><em><strong>target audience </strong></em><strong>yang sesuai dengan target market pemasar.</strong><br />
Jika anda akan menonton bioskop website apa yang akan anda lihat? jika anda ingin membeli peralatan komputer website apa yang akan anda buka? Jika anda akan mencari berita terakhir yang terjadi, jika anda akan mencari berita yang lebih lengkap, dsb. Itulah <em>positioning, </em>website anda akan diposisikan di segmen tertentu oleh pengguna, beberapa website gagal memposisikan dirinya ke dalam segmen tertentu karena memang mereka masih blur atau ingin menjadi <em>all in one, trust me that&#8217;s bad idea.</em><br />
 </li>
<li><em><strong>Good ROMI </strong></em><strong>atau hasil yang bagus dari investasi marketing untuk melakukan sebuah </strong><em><strong>campaign</strong></em><strong> di website anda.</strong><br />
Jangan pernah berpikir advertiser hanya akan menghabiskan budget marketing mereka, percayalah advertiser akan meminta pertanggung jawaban atas setiap sen yang mereka keluarkan untuk melakukan <em>online campaign</em> di website anda.<br />
 </li>
<li><em><strong>More than banner please.</strong><br />
</em>Banner biasa sudah hal basi, itulah kenapa jika anda perhatikan banyak advertiser yang tidak beriklan lagi di beberapa media lokal yang tidak mampu menyediakan sesuatu yang <em>innovative, </em>anda harus mempelajari tentang apa itu <em>rich media, </em>ya anda benar! banner dengan segala macam interaktifnya, lalu apakah server anda mampu meng-<em>handle</em>nya? bagaimana teknologinya? <em>that&#8217;s your another homework. </em>Anda juga harus memikirkan untuk membantu advertiser memenuhi objectives mereka dengan cara lain.</li>
</ol>
<p>Sudahkah website anda memenuhi semua persayaratan diatas? saya berani jawab pasti belum. Karena memang hal diatas adalah pekerjaan yang tidak mudah dan banyak bahkan tanpa akhir. Itulah kenapa saya selalu mengatakan bisnis online itu jauh lebih susah daripada bisnis offline. Susah bukan berarti tidak mungkin berhasil, <em>so please keep trying and goodluck! </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/mau-revenue-dari-iklan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia : Pasar Mobile Tertinggi di Dunia</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/indonesia-pasar-mobile-tertinggi-di-dunia.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/indonesia-pasar-mobile-tertinggi-di-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 11:54:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rama</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>

		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[ad network]]></category>

		<category><![CDATA[iklan]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[jaringan iklan]]></category>

		<category><![CDATA[Mobile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Buzzcity, sebuah komunitas developer mobile berbasis di Singapura, baru-baru ini merilis hasil riset &#8220;Global Mobile
Advertising Index&#8221; kuarter ke-4 tahun 2008 yang bisa diunduh disini (pdf). Di laporan hasil riset ini, Indonesia merupakan negara dengan jumlah banner impression tertinggi di dunia dengan 1.8 milyar iklan yang disajikan. Di periode yang sama tahun sebelumnya (2007), Indonesia masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://buzzcity.com">Buzzcity</a>, sebuah komunitas developer mobile berbasis di Singapura, baru-baru ini merilis hasil riset &#8220;<strong>Global Mobile<br />
Advertising Index</strong>&#8221; kuarter ke-4 tahun 2008 yang bisa diunduh <a href="http://www.buzzcity.com/l/reports/BuzzCityMAIndex-Q4Dec08.pdf">disini</a> (pdf). Di laporan hasil riset ini, Indonesia merupakan negara dengan jumlah banner impression tertinggi di dunia dengan 1.8 milyar iklan yang disajikan. Di periode yang sama tahun sebelumnya (2007), Indonesia masih nomor dua dengan 200 juta iklan yang disajikan. Tahun 2007 Indonesia masih dibawah India, namun tahun 2008 ini penyajian iklan mobile Indonesia bertumbuh 800% dibandingkan dengan India yang hanya bertumbuh 23%.</p>
<p><img class="alignnone" src="http://i39.tinypic.com/33wv4wn.jpg" alt="" width="430" height="147" /></p>
<p>Ketika saya melihat seringnya  iklan-iklan games mobile tampil di televisi, saya selalu berfikir apakah ada yang benar-benar mengunduh dan membayar untuk aplikasi seperti  ini? Saya pesimis. Namun sekarang, fakta dan riset membuktikan bahwa games-games mobile ini merupakan pasar potensial yang luar biasa besar, jauh melebihi ekspektasi saya. Angka 1.8 milyar sepertinya cukup untuk mengubah persepsi saya dan membuat jaringan iklan global mulai melirik Indonesia sebagai incaran mereka. Dengan fakta ini, tahun 2009 sepertinya akan makin banyak provider konten lokal yang menjalin rekanan dengan jaringan iklan global, seperti yang sudah banyak terjadi tahun 2008 kemarin. Kenapa harus jaringan iklan global? Karena jaringan iklan lokal, khususnya di pasar mobile, masih belum ada yang mapan dan belum ada yang menawarkan strategi bisnis yang menarik bagi para penyedia konten lokal.</p>
<p>Sayang sekali jika pasar lokal yang sangat besar ini kita sia-siakan untuk para vendor luar negeri, dimana kita memiliki pengetahuan untuk &#8220;mengeksploitasi&#8221; nilai-nilai lokal yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjual konten. Banyak vendor luar negeri yang akan memiliki kesulitan melakukan penetrasi demografi ke pasar Indonesia yang sangat beragam, mulai dari bahasa, ras, tingkat pendidikan, dan lain-lain. Disini, jaringan iklan lokal seharusnya bisa lebih unggul dibandingkan jaringan iklan luar negeri. Tinggal apakah kita mampu memanfaatkan kesempatan ini atau tidak.</p>
<p><a href="http://blog.pinkheadbox.com/post/okay-were-at-the-top-what-do-we-do/">english version</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/indonesia-pasar-mobile-tertinggi-di-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Blog Dilirik Pemasar</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/agar-blog-dilirik-pemasar.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/agar-blog-dilirik-pemasar.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 16:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pitra</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Media sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Tip & trik]]></category>

		<category><![CDATA[advertorial]]></category>

		<category><![CDATA[blogging]]></category>

		<category><![CDATA[branding]]></category>

		<category><![CDATA[monetize]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya saya sempat cerita tentang mulai diliriknya blog oleh pemasar merk. Nah sekarang, bagaimana caranya agar blog yang kita miliki bisa terlihat eksis di antara ribuan blog Indonesia lainnya? Ini pertanyaan yang susah dijawab sebetulnya. Upaya memperkenalkan sebuah blog menjadi lebih terkenal saat ini merupakan tantangan besar. Lebih susah daripada masa saya pertama kali ngeblog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-98" src="http://spasi.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/04/famousblogger.jpg" alt="famousblogger" width="320" height="229" />Sebelumnya saya sempat cerita tentang <a href="http://spasi.dagdigdug.com/blog-sudah-dilirik-pemasar-merk-loh.html" target="_blank">mulai diliriknya blog oleh pemasar merk</a>. Nah sekarang, bagaimana caranya agar blog yang kita miliki bisa terlihat eksis di antara ribuan blog Indonesia lainnya? Ini pertanyaan yang susah dijawab sebetulnya. Upaya memperkenalkan sebuah blog menjadi lebih terkenal saat ini merupakan tantangan besar. Lebih susah daripada masa saya pertama kali ngeblog tiga tahun lalu. Bisa jadi jawaban saya ini tidak sempurna, namun saya harap tetap bisa membantu.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>1. Konsistensi konten</strong></span></p>
<p>Ini faktor paling penting. Bukan blog yang bagus namanya kalau nggak berisi konten yang menarik. Jangan menulis blog hanya untuk diri sendiri. Pikirkan dari sisi pembaca. Apakah isi blog ini bisa bermanfaat untuk pembacanya? Apakah blog berisi tulisan menarik dan memberikan informasi yang tidak diberikan oleh situs lain? Seberapa sering blog di-<em>update</em>? Sekedar tips, jangan menulis <em>posting </em>yang terlalu panjang. Batasi sekitar 300-350 kata saja per <em>posting</em>. Jika topik yang dibahas lebih panjang daripada itu, pecah isi bahasan menjadi beberapa <em>posting</em>, dan publikasikan <em>posting </em>secara bertahap. Untuk blog yang pertama kali dibangun, konsistensi menjadi penting karena akan memancing Google untuk mengindeks blog kita.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>2. Pemilihan topik konten</strong></span></p>
<p>Sudah banyak blog personal bertaburan di ranah blogosfer. Tunjukkan kalau bahasan blog personal kita ini unik daripada blog-blog lainnya. Bisa dari gaya tuturnya, atau bisa dari kelengkapan visualnya. Kalau mau lebih terlihat lebih eksis, sebaiknya pilihlah topik yang spesifik. Topik yang masih relevan dengan <em>passion </em>dan kompetensi kita, namun juga bersifat populer dan banyak pembacanya. Misalnya, <em>passion </em>kita di dunia otomotif, ya tulislah konten-konten bertema otomotif. Dengan semakin banyaknya pembaca, akan membuka peluang merk yang erat hubungannya dengan dunia otomotif untuk masuk beriklan di blog kita. Ada baiknya memperhatikan juga merk-merk mana yang kini gencar beriklan di internet, dan kita mencoba menuliskan blog dengan tema yang bisa <em>nyambung </em>dengan merk tersebut.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>3. Tingkatkan popularitas</strong></span></p>
<p>Sebagus apapun isi blognya, kalau nggak ada yang tahu ya sama juga bohong. Di awal-awal pengenalan blog, rajinlah selalu menyampaikan tautan <em>posting </em>ke <em>social bookmark </em>seperti <a href="http://www.lintasberita.com" target="_blank">Lintas Berita</a>, memberitakannya melalui Facebook, Plurk, Twitter, dan bahkan kalau diizinkan, ceritakan <em>posting </em>ini ke <em>mailing list </em>atau forum-forum bertopik serupa. Jangan lupa untuk selalu <em>blogwalking</em> dan tinggalkan jejak komentar (meski jangan promo diri berlebihan ya di komentar blog orang). Carilah blog-blog lain yang bertopik serupa, dan bangunlah komunikasi dengan blog-blog tersebut. Tukar <em>banner </em>atau <em>blogroll</em>, agar pembaca di blog tetangga pun akan mampir ke blog kita juga. Sering pulalah hadir di acara kopdar, dan kenalkan blog kita dengan siapapun yang kita temui.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>4. Dekatlah dengan para pemasang iklan</strong></span></p>
<p>Ini yang paling susah, karena tidak semua dari kita punya akses ke sana. Menjadi seorang blogger memang wajib menjadi <em>entrepreneur</em> bagi dirinya sendiri. Kita mampu menulis, dan kita harus mampu menjualnya. Kita juga harus sadar terlebih dahulu, pemasangan iklan bukanlah sesuatu yang bersifat kontinu. Iklan hanya tayang dalam periode waktu tertentu saja dengan pesan tertentu pula. Saat ini mungkin sebuah produk otomotif sedang berkampanye <em>online</em>, maka yang “beruntung” mendapat rejeki adalah blogger yang menulis tentang otomotif. Bisa jadi bulan depan produk telekomunikasi yang berkampanye <em>online</em>, maka blog bertopik teknologi atau <em>gadget </em>yang menjadi pilihan. Kita harus mengenal pihak-pihak yang mewakili pemasar merk itu, dan menunjukkan kalau blog kita layak untuk ikut dijadikan media beriklan.</p>
<p> </p>
<p>Oh ya, jangan menjadikan pemasangan iklan sebagai tujuan kita ngeblog ya. Sepopulernya sebuah blog di Indonesia belum bisa dijadikan andalan seorang blogger untuk dapat hidup layak. Jadi seorang yang kaya dari sebuah blog masih sangat sulit, namun jadi seorang <strong>selebriti blog Indonesia yang terkenal</strong> tentu masih sangat mungkin!</p>
<p><strong>Artikel lain yang terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2007/10/30/membangun-blog-itu-sulit-sulit-mudah/" target="_blank">Membangun 	Blog itu Sulit-sulit Mudah</a> </li>
<li><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/01/24/mengenalkan-blog-nggak-melulu-secara-online/" target="_blank">Mengenalkan 	Blog Nggak Melulu Secara </a><em><a href="http://media-ide.bajingloncat.com/2009/01/24/mengenalkan-blog-nggak-melulu-secara-online/" target="_blank">Online</a></em> </li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/agar-blog-dilirik-pemasar.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>LTE dan Web 2.0</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/lte-dan-web-20.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/lte-dan-web-20.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 16:59:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Koen</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[lte]]></category>

		<category><![CDATA[Mobile]]></category>

		<category><![CDATA[network]]></category>

		<category><![CDATA[ngmn]]></category>

		<category><![CDATA[web 2.0]]></category>

		<category><![CDATA[wimax]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Aku baru blogging soal LTE. Kayak biasa, tampak terlalu teknis, biarpun sebenarnya itu untuk konsumsi pembaca non-teknis. Mungkin memang dunia IT banyak diracuni oleh singkatan2 yang membuat tata istilah tampak berat dan beracun. Tak terhindarkan sih. Cara mengatasinya adalah dengan melupakan bahwa istilah itu adalah singkatan. Laser dan modem misalnya, adalah singkatan; tetapi kita bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku baru blogging soal LTE. Kayak biasa, tampak terlalu teknis, biarpun sebenarnya itu untuk konsumsi pembaca non-teknis. Mungkin memang dunia IT banyak diracuni oleh singkatan2 yang membuat tata istilah tampak berat dan beracun. Tak terhindarkan sih. Cara mengatasinya adalah dengan melupakan bahwa istilah itu adalah singkatan. Laser dan modem misalnya, adalah singkatan; tetapi kita bisa santai menggunakan kata2 itu tanpa harus ingat bahwa itu juga singkatan. So, nikmatilah :).</p>
<p>Dunia telekomunikasi selalu terpecah jadi setidaknya dua madzhab. Di dunia transmisi, ada madzhab Eropa, dengan istilah E1, E2, E3, dan SDH; melawan madzhab Amrik dengan T1, T2, T3, dan SONET. Di dunia seluler digital (2G), kita kenal GSM yang merupakan standar Eropa, sementara Amerika dan Jepang menggunakan standar yang berbeda. Transmisinya digital berbasis waktu (TDMA). Untuk generasi berikutnya &#8212; 3G &#8212; mereka sepakat menggunakan transmisi berbasis CDMA. Tapi penganut GSM menggunakan standar bernama Wideband-CDMA, sementara Amerika dan Asia Timur menggunakan CDMA-2000. Di Indonesia kita menggunakan keduanya: GSM/WCDMA untuk banyak layanan seluler (Telkomsel, XL, dll), dan CDMA2000 untuk layanan fixed wireless (Flexi, Esia, dll). Cita-cita awal 3G adalah jaringan yang seluruhnya berbasis IP. Cita-cita ini belum terlaksana, namun ada kekuatan ketiga yang sementara itu juga hadir: Wireless Internet, dalam bentuk WiFi pada LAN, dan WiMAX pada WAN. Arsitektur WiMAX (IEEE 802.16) sedikit banyak sudah membuatnya layak untuk masuk juga ke dalam 3G, dan tentu sudah bersifat All-IP.</p>
<p>Untuk generasi yang akan datang, yaitu 4G, transmisi CDMA dimigrasikan lagi ke OFDMA (akses berbasis frekuensi ortogonal). OFDMA memungkinkan penggunaan spektrum yang lebih efisien. Artinya, pada band frekuensi yang sama kita bisa menghantarkan data yang lebih banyak. Jika CDMA menjanjikan hingga belasan megabit per detik, OFDMA menjanjikan kecepatan maksimal di atas dua ratus megabit per detik. 4G juga akan mengharuskan jaringan yang bersifat All-IP.</p>
<p>Pada tahun 2007, ITU telah menerima beberapa kandidat yang akan dijadikan standard untuk 4G. Madzhab GSM (Ericsson dkk) mengajukan arsitektur yang disebut LTE. Madzhab CDMA2000 (Qualcomm dkk) mengajukan UMB. Sementara WiMAX direncanakan untuk dikembangkan menjadi WiMAX II (IEEE 802.16m). Mungkin 3 madzhab terlalu banyak untuk dunia telekomunikasi. Maka di akhir 2008, Qualcomm menyatakan mendukung LTE alih-alih meneruskan UMB. Maka &#8212; sementara ini &#8212; kandidat 4G hanya tinggal LTE dan WiMAX II.</p>
<p>Rencana implementasi 4G adalah pada 2012. Namun LTE telah menyusun arsitektur yang cukup lengkap, dan langkah migrasi telah dapat mulai direncanakan. 20 operator di dunia (dengan 1,8 miliar pelanggan) menyatakan siap menggelar LTE, termasuk NTT Docomo, China Mobile, Vodafone, Verizon, T-Mobile, dan AT&amp;T. Di Indonesia, Telkomsel (dengan market share 45% di Indonesia) juga menyatakan siap bermigrasi ke LTE.</p>
<p>LTE dirancang bersifat All-IP. Semua IP, hanya IP, dan mudah berkoneksi dengan jaringan IP lainnya; termasuk ADSL, WiMAX, dan WiFi. Mode mobile dan fix disiapkan dengan perpindahan yang tak terasa. Hal-hal yang selama ini berat dilakukan secara mobile, misalnya upload video, akan menjadi mudah dengan perpindahan mode ini. Hal semacam ini seharusnya bisa dilakukan dengan 3G. Tetapi para perancang arsitektur network masa itu nampaknya belum menganggap hal ini menjadi keharusan. Melejitnya Web 2.0, terwujudnya Internet 2.0 yang bersifat conversation (perbincangan) dan emansipatif, serta terwujudnya Mobile 2.0 yang menggabungkan melejitnya jumlah aplikasi dan perbincangan dengan melonjaknya jumlah user perangkat mini yang terhubung ke network; semuanya menjadikan jaringan yang All-IP, pervasive, seamless, dan berkecepatan tinggi itu jadi keharusan, yang selanjutnya menjadi spesifikasi wajib dalam 4G. Maka 4G juga merupakan anak kandung dari Web 2.0.</p>
<p>Kecepatan tinggi? LTE menjanjikan kecepatan data pada nilai rerata 15 Mb/s dan delay 15 milidetik. Nilai maksimal kecepatan data diharapkan dapat mencapai di atas 200Mb/s pada bandwidth 20MHz. Ericsson mengharapkan kecepatan hingga 280 Mb/s. Delay yang rendah didukung oleh arsitektur yang disederhanakan (dua penghubung saja pada alur data: base station yang disebut eNodeB, dan gateway), serta jenis persinyalan diminimalkan. Kan All-IP :).</p>
<p>Jadi, siap menyambut LTE? Atau kita lihat juga alternatifnya &#8212; WiMAX II?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/lte-dan-web-20.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Layanan Web Lokal Kurang Populer?</title>
		<link>http://spasi.dagdigdug.com/mengapa-layanan-web-lokal-kurang-populer.html</link>
		<comments>http://spasi.dagdigdug.com/mengapa-layanan-web-lokal-kurang-populer.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 16:23:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rama</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jejaring sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Media sosial]]></category>

		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[business model]]></category>

		<category><![CDATA[design]]></category>

		<category><![CDATA[kolaborasi]]></category>

		<category><![CDATA[penggunafitur]]></category>

		<category><![CDATA[web lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://spasi.dagdigdug.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu Facebook? Twitter? Plurk? YouTube? Saya yakin anda semua pernah mendengarnya dan juga menjadi salah satu pengguna rutin. Tapi pernahkah anda mendengar Fupei? Digli? Kronologger? Beoscope? Saya juga yakin beberapa dari anda pernah mendengar, namun seberapa dari anda yang menjadi pengguna setia? Sebenarnya dimana sih perbedaan antara layanan-layanan lokal dan layanan luar itu?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-82" style="float:left; margin:10px;" src="http://spasi.dagdigdug.com/wp-content/uploads/2009/04/batik.jpg" alt="batik" width="400" height="300" />Anda tahu <strong>Facebook</strong>? <strong>Twitter</strong>? <strong>Plurk</strong>? <strong>YouTube</strong>? Saya yakin anda semua pernah mendengarnya dan juga menjadi salah satu pengguna rutin. Tapi pernahkah anda mendengar <a href="http://web2.0indonesia.com/website/fupei/">Fupei</a>? <a href="http://web2.0indonesia.com/website/digli/">Digli</a>? <a href="http://web2.0indonesia.com/website/kronologger/">Kronologger</a>? <a href="http://web2.0indonesia.com/website/beoscope/">Beoscope</a>? Saya juga yakin beberapa dari anda pernah mendengar, namun seberapa dari anda yang menjadi pengguna setia? Sebenarnya dimana sih perbedaan antara layanan-layanan lokal dan layanan luar itu?</p>
<p>Kalau dipikir-pikir, layanan-layanan lokal itu memiliki beberapa keuntungan, bandwith misalnya. Kecepatan internet negara kita tercinta ini memang tergolong sangat lambat dibandingkan dengan negara tetangga Singapura dan Australia (padahal kita ada diantara 2 negara itu ya??) dan seharusnya layanan yang membutuhkan bandwith tinggi seperti Beoscope bisa memanfaatkan keunggulan ini. Tapi kenapa pengguna lokal justru lebih memilih Youtube atau Vimeo? Apakah karena fitur? Tidak juga. Fitur Beoscope dan YouTube kurang lebih sama kok. Begitu pula fitur Fupei dengan Facebook (kecuali di Apps - yang akan segera berubah ;p).</p>
<p>Disini saya akan coba identifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi kaburnya pengguna ke layanan luar daripada layanan lokal :</p>
<p><strong>Miskin fitur</strong></p>
<p>Ya, memang tak bisa disangkal bahwa situs luar sangat inovatif jika berkaitan dengan fitur. Perkembangan teknologi web di luar negeri memang sangat cepat dan kaya. Meskipun akhirnya fitur itu bisa diadopsi oleh layanan lokal, tetapi hal itu justru makin menunjukkan bahwa kita berada di belakang. Hal yang sama kurang - lebih berlaku untuk localized features (fitur lokalisasi???) seperti Ngecap dan Kronologger yang diklaim <strong>Twitter versi Indonesia</strong>, Fupei dan Digli yang diklaim <strong>Friendster versi Indonesia</strong> dan lain sebagainya yang <strong>versi Indonesia</strong>. Layanan-layanan ini sebenarnya bagus karena mentargetkan pasar lokal, tetapi kurangnya diferensiasi dari layanan luar membuat para pengguna enggan berpindah. Meskipun begitu, saya pribadi melihat bahwa beberapa layanan sudah mulai inovatif mengembangkan layanannya, dan mulai serius mengelola layanannya untuk pengguna. Saya harap nantinya semua web lokal bisa terus berpacu untuk menghasilkan fitur-fitur yang inovatif yang pastinya cukup kuat untuk menggaet pengguna lokal.</p>
<p><strong>Minimum Exposure</strong></p>
<p>Exposure ini sangat penting untuk sebuah layanan berbasis web, saya yakin anda sudah tahu. Satu hal yang jelas adalah sebagian besar layanan web lokal tidak melakukan marketing / promosi secara maksimal. Masih mengandalkan word of mouth dari komunitas pengguna adalah hal yang bagus, terutama jika komunitas pengguna layanan anda sudah banyak dan juga loyal (setia). Pengguna loyal bahkan sanggup menjadi evangelist untuk layanan anda tanpa dibayar lho. Namun sayangnya, karena banyak faktor yang juga bermain disini, promosi yang diharapkan malah sangat minimal sekali. Hampir tidak ada web lokal yang mengalokasikan dana untuk beriklan baik di media online ataupun media konvensional. Saya belum pernah melihatnya, anda sudah pernah?</p>
<p>Dan keadaan ini diperparah dengan minimnya exposure dari media kita sendiri. Memang sih belakangan ini tingkat ketertarikan terhadap layanan lokal mulai terlihat namun masih belum menyentuh titik kritis untuk membuat pengguna tertarik menggunakan layanan lokal. Memang faktor ini bukan faktor penentu, tapi cukup mempengaruhi.</p>
<p><strong>User Experience Design<br />
</strong></p>
<p>Design menentukan, saya yakin anda setuju dengan saya mengenai hal ini. Saya memperhatikan beberapa layanan lokal yang memiliki tampilan kurang bagus tampak kesulitan mendapatkan eksposure dari media maupun pengguna. Sedangkan layanan lokal dengan design yang bagus (bahkan mengalahkan layanan luar) tanpa perlu bersusah payah bisa mendapatkan pengguna baru dan diliput oleh banyak media, tentu saja karena konsep yang ditawarkan juga sangat unik dan menarik.</p>
<p>Saran saya untuk para developer dibelakang layanan-layanan lokal, jangan gunakan programmer anda untuk mendesign situs. Gunakanlah jasa web designer professional untuk mendapatkan hasil maksimal, dan yakinlah kalau hal tersebut tidak akan sia-sia.</p>
<p><strong>Minim Kolaborasi</strong></p>
<p>Poin ini merupakan poin yang paling sering diabaikan, terutama di tech-scene lokal. Pak Didi Nugrahadi yang membawa poin ini kedalam pembicaraan kami di Wetiga dan saya benar-benar tertarik dengan poin ini. Salah satu kelemahan dari layanan lokal, adalah terpecah-pecah dan seperti mengeksklusifkan diri dari layanan lain, bukan hanya ke kompetitor melainkan ke seluruh layanan lokal. Mindset yang paling banyak dianut oleh para pemain besar di bidang web lokal adalah dengan mengejar pengguna dari segala sisi kebutuhan pengguna tanpa bantuan dari pihak lain yang sebenarnya tidak ada konfrontasi secara langsung.</p>
<p>Ada sebuah peribahasa : &#8220;Keep your friends close, but keep your enemies closer&#8221;. Di era Open Web ini, yang mampu bertahan adalah yang mampu berkolaborasi. Tidak percaya? Lihat bagaimana Linux yang gratis bisa menjadi ancaman untuk bisnis Microsoft yang mencapai jutaan dollar itu. Lihat bagaimana Wikipedia yang gratis itu sanggup membunuh Microsoft Encarta. Lihat bagaimana New York Times mulai beralih ke online dan mulai meninggalkan edisi cetak, dengan tidak mengurangi (bahkan menambah) revenue. Di Indonesia sendiri juga sudah ada pribahasa yang melekat kuat, &#8220;Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh&#8221;, kenapa tidak kita terapkan juga disini?</p>
<p><strong>Business Plan</strong></p>
<p>Untuk banyak developer yang idealis (termasuk saya dulu) uang itu belakangan, yang penting website kita populer dulu. Pendapat seperti ini memang tidak sepenuhnya salah, namun alangkah lebih baik jika strategi / rencana untuk mendatangkan uang  juga dipikirkan dari awal. Kenapa? Karena business model inilah yang akan menentukan hidup-matinya layanan kita, dan juga pasti menentukan arah dari fitur-fitur kita. Coba kita lihat kasus Twitter, dengan jutaan pengguna dari seluruh dunia, hampir semuanya loyal dan banyak yang merupakan evangelist secara sukarela. Namun belakangan ini Twitter baru mendatangkan seorang Business Development Director dan mulai bereskperimen dengan berbagai metode monetisasi. Apakah mengganggu user? Jangan sampai. Hal inilah yang agak sulit dihindari, terutama jika pengguna yang biasa menggunakan layanan secara gratis tiba-tiba harus membayar, kemungkinan terbesar adalah pengguna akan lari (kecuali memang layanan anda layak berbayar). Faktor ini juga dirasa penting untuk menjamin kelangsungan hidup dari layanan anda, jadi sebaiknya dipikirkan lebih matang jika ingin layanan anda berumur panjang. Sayangnya scene lokal banyak diwarnai dengan startup yang tidak memiliki nafas panjang.</p>
<p><strong>Nah, itu menurut saya beberapa faktor yang mempersulit layanan lokal untuk bisa eksis di negeri sendiri dibandingkan dengan layanan luar. Memang daftar ini masih belum lengkap, bagaimana menurut anda? Faktor apa lagi kah yang menyebabkan pengguna lokal justru memilih layanan luar daripada layanan lokal? Faktor apa yang membuat ANDA memilih layanan luar daripada layanan lokal?<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://spasi.dagdigdug.com/mengapa-layanan-web-lokal-kurang-populer.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
